Senin, 11 April 2011

Berpikir (Jangka) Panjang

Bisa jadi, yang akan saya ulas ini ada kaitannya dengan pertanyaan mengapa Indonesia tidak pernah maju, dari dulu sampai sekarang.
Kebanyakan orang Indonesia saat ini, tak terkecuali para pejabat dan saya, memiliki pemikiran hanya jangka pendek saja. Apa yang dipikirkan hanya bersifat populis dan hanya berlaku dalam jangka tertentu saja. Kebijakan yang dipikirkan tidak pernah memikirkan jangka panjangnya. Misalkan ijin kendaraan pribadi ditingkatkan dengan dalih untuk menutup pajak yang tekor akibat habisnya dana untuk menambal atau memperbaiki jalan yang rusak. Secara jangka pendek, ini dapat dimaklumi dan seolah-olah sah-sah saja. Tidak terpikirkan akibat selanjutnya : kondisi cadangan minyak bumi yang makin menipis, polusi udara, angka kecelakaan yang akan cenderung meningkat, infrastruktur jalan yang harus ditingkatkan, dan lain sebagainya.
Tidak berpikir panjang juga merupakan kesalahan besar bangsa ini. Pemikirannya selalu cepat keluar, tapi tidak melihat faktor A sampai Z. Berpikir pendek tidak sama dengan berpikir cepat, meskipun dapat disedikit sama artikan, tapi memiliki esensi yang berbeda. Berpikir pendek memiliki arti berpikir hanya sesaat, tanpa memandang faktor A sampai Z yang mempengaruhinya serta pemikiran yang diberikan, biasanya, hanya untuk beberapa saat saja. Berpikir cepat, memiliki arti bahwa orang tersebut sempat 'berpikir' dalam artian sempat melihat dan mempertimbangkan faktor A sampai Z meskipun hanya sekilas dan kurang mendalam. Contoh berpikir pendek adalah ketika kita diberikan pertanyaan singkat, misalnya : saya akan bunuh diri karena cinta saya ditolak. Berpikir cepat misalnya pada pertanyaan-pertanyaan spontan yang diberikan seorang guru pada muridnya.
Harus bagaimanakah dan kemanakah kita? Sebagai generasi muda yang terarah dan berprestasi, tentunya hendaknya kita diajak untuk berpikir panjang. Tidak hanya berpikir panjang, tapi juga berpikir jangka panjang. Berpikir jangka panjang dan berpikir panjang belum tentu membutuhkan waktu yang lama. Semuanya berkaitan dengan pengalaman dan banyaknya artikel, buku, atau kasus yang pernah dibaca, dimengerti, dan dipahami secara mendalam. Kenapa harus berpikir jangka panjang? Tentu ini nantinya dapat melatih diri sendiri untuk menjadi pribadi yang stabil dan netral, meskipun tidak selamanya netral itu baik dan juga dalam kasus tertentu, netral bisa dianggap sebagai tindakan tak berpendirian bila dilakukan tanpa dasar atau landasan yang kuat. Berpikir jangka panjang harus memperhatikan aspek-aspek berdasarkan faktor dan kondisi, baik dari A sampai Z. Ini yang sebenarnya membuat pemikiran itu jadi matang. Akibat yang ditimbulkan dari pemikiran ini adalah keputusan yang dapat dipergunakan dalam jangka yang panjang. Selain itu, keputusan yang diambil pun adalah win-win solution yang tidak berat sebelah. Akibat lainnya dengan pemikiran jangka panjang ini adalah berkurangnya sikap arogansi. Sikap arogan sendiri muncul karena seseorang hanya memandang bahwa "I", "Saya", "Aku", atau bahkan "Gue" sebagai sesuatu hal yang pantas dan layak dibenarkan karena hanya melihat dari sisi "Saya" tadi tanpa melihat faktor A-Z sampai selesai, atau mungkin juga hanya memandang faktor A-D saja, belum selesai sampai Z.
Kenapa saya mengajak Anda sekalian untuk berpikir panjang dan jangka panjang? Ini berkaitan dengan kondisi bangsa kita yang sudah sangat jenuh pada pemikiran saat ini yang lebih mengutamakan pemikiran jangka pendek, dan berpikir pendek. Akibatnya, banyak sekali orang yang berpemikiran jangka panjang harus disisihkan, tersingkir, dan 'terpaksa' pergi ke luar negeri untuk menyalurkan idealismenya tersebut. Akibatnya, karena pemikiran yang terjadi hanya jangka pendek, ketika yang dibicarakan oleh si 'pemikiran jangka panjang' terjadi, si 'pemikiran jangka pendek' ini cuma bisa bilang, "Oh, iya ya. Kenapa dulu tidak seperti ini saja?" dan sayangnya itu adalah pemikiran yang sudah 'kasep' atau terlanjur. Pemikiran seperti ini tidak pantas dibudayakan. Begitu juga ketika pemikiran jangka panjang bisa menghindarkan pada tindakan arogansi dan egosentris. Tentu bangsa kita saat ini sudah sangat maju. 
Berpikir jangka panjang saat ini bukanlah lagi merupakan suatu trend, melainkan sebuah kebutuhan yang mau tidak mau harus diadakan. Orang arogan dan sangat egosentris merupakan ciri orang yang tidak pernah berpikir panjang dan jangka panjang. Akibatnya, ia hanya akan memandang sebagian saja yang menjadi faktor dan pandangan atau keputusannya akan berat sebelah. Maka, jangan salahkan jika Indonesia saat ini selalu berat sebelah. Bisa ambil kesimpulan? Kebanyakan orang Indonesia masih belum bisa berpikir panjang dan jangka panjang dan 100 % dari mereka terjerumus ke lembah arogansi dan egosentris.

2 komentar:

  1. Org org berfikir pendek karena mereka tidak peduli dengan pendapat orang lain.. menurut saya.. kebanyakan dari orang yang tidak mau mendengarkan itu faktor dari masa muda nya yang tidak dididik untuk bisa mendengarkan. Saya sangat tidak suka orang demikian dan mereka hanya merepotkan sisi lainnya karena mereka selalu berat sebelah

    BalasHapus