Kamis, 06 Oktober 2011

SELAMAT ULANG TAHUN 
KOTA JOGJAKARTA KE 255




Aku lahir di kota ini
Dibesarkan juga di kota ini
Minum dari air yang ada di bawah tanah kotaku ini
Mengenyam pendidikan sampai SMA disini
Merasakan suka dukanya di kota ini
Mengikuti perkembangan jaman
Dari Jaman Hyatt hotel masih ladang tandus
Sampai sekarang Hyatt Hotel berganti Cluster Hyarta
Dari jaman kebun tebu belakang rumah masih subur
Sampai sekarang tumbuh bangunan yang berjudul 'The Paradise'

Selamat Ulang Tahun Jogjakarta
Semoga tetap menjadi kota yang layak huni
Tetap menjunjung kebersamaan, keramahan, dan keluguan khas Jawa
Semoga julukan 'kota yang plural' akan tetap melekat selalu 

Jogjakarta Never Ending Asia
Jogjakarta memang istimewa

Minoritas Tidak Sama Dengan Nol Mutlak

"Menjadi minoritas bukan alasan untuk tidak bermasyarakat dan tidak berkarya."

Diskusi malam ini bersama dua orang pengurus UKMKK cukup mengena: memaknai arti sebuah kata 'minoritas'. Tak hanya minoritas dalam hal agama, tapi dalam segala hal. Baik itu Suku, Ras, kemampuan akademik, bahkan kepercayaan diri.
Menjadi kaum minoritas, tentu bukan yang diharapkan setiap orang. Bahkan semua orang pun pasti menginginkan tidak ada minoritas. Kalau bisa semuanya menjadi satu padu, cuma caranya saja yang salah dengan sedikit pemaksaan penyeragaman. Minoritas tidak perlu digabungkan dengan mayoritas, sehingga semuanya menjadi satu tidak ada perbedaan. Tidak ada perbedaan, itu rasanya akan sama saja seperti makan pagi semuanya isinya nasi. Tidak ada lauk pauk, piring dan sendok pun juga dari nasi. Hambar, kosong, blong, tidak mengena.
Kenapa sih minoritas kok identik dengan kata 'disingkirkan'? Sebenarnya bukan demikian. Perasaan pribadi saja yang membuat sekelompok manusia merasa 'disingkirkan' karena ia minoritas. Lebih tepatnya bukan karena mereka itu minoritas. Tapi memaksa diri menjadi minoritas dan menjadi semakin minoritas. Kecenderungannya adalah begini, tiap orang yang tergabung dalam kelompok-kelompok yang dianggap masyarakat sebagai kelompok 'minoritas' biasanya akan semakin tersudut dan membentuk kelompok-kelompok yang sangat eksklusif, tertutup, dan orang lain tidak diperkenankan untuk tahu dan kelompok eksklusif ini tidak mau tahu dengan kondisi luar kelompok mereka. Keberadaan minoritas yang kemudian membentuk kelompok-kelompok eksklusif inilah yang membuat kelompok minoritas akan semakin menjadi minoritas. Menjadi semakin minoritas dan tertutup akan membuat kelompok tersebut disingkirkan bahkan lebih parahnya ditindas.
Menjadi minoritas bukanlah halangan untuk terus bermasyarakat dan terus berkarya. Justru inilah yang harus dilakukan. Justru jangan membuat kelompok-kelompok yang semakin eksklusif. Justru orang-orang yang tergolong dalam minoritas, dalam semua hal lho ya, sekali lagi dalam semua hal karena konteksnya sangat luas, harus berbaur, bahkan dengan yang mayoritas sekalipun. Bukankah akan segelas teh susu akan menjadi sangat nikmat bila di tengah-tengah molekul air yang banyak, terdapat molekul-molekul teh, susu, dan gula? Demikian juga dengan kehidupan. Jika sebuah kehidupan yang kecil-kecil itu menjadi satu yang besar, akan lebih enak dan indah. Bayangkan bila kita membeli teh susu, ternyata molekul-molekul air itu berkumpul sendiri, begitu juga dengan molekul susu, gula, dan teh. Rasanya akan sangat lucu, bahkan aneh. Kadang-kadang manis, kadang sepet, kadang tawar, dan lain sebagainya.
Menjadi minoritas juga bukan berarti tidak berkarya sama sekali. Tidak mau berkarya akan membuat diri semakin terkucil dan jauh dari peradaban. Ketika menjadi minoritas dalam segala hal, berkaryalah karena karya itulah yang akan menunjukkan eksistensi seseorang, meskipun dalam karya tersebut harus benar-benar berkarya dengan benar, tidak serampangan, dan menunjukkan hasil yang sesuai (sesuai belum tentu bagus dan bagus belum tentu sesuai). Tetaplah berkarya, tentu pada bidang yang sesuai, meskipun minoritas. Misalnya, meskipun tercatat sebagai ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) harus tetap berkarya di tengah masyarakat. Bisa juga dengan aktif dalam olahraga, membuat barang-barang kerajinan, dan lain sebagainya. Ketika hanya berdiam diri dan terkungkung dalam ketakutan, maka hal itu akan membuat diri semakin menjadi minoritas yang sedalam-dalamnya.
Minoritas bukan alasan untuk membentuk kelompok-kelompok kecil yang eksklusif yang membuat semakin menjadi minoritas. Minoritas bukan juga berarti sebuah alasan untuk tidak bermasyarakat dan tidak berkarya. Indahnya kehidupan, jika elemen-elemen kehidupan berbaur menjadi satu, membentuk sebuah bentukan dengan warna, jiwa, dan rasa yang indah.

Rabu, 05 Oktober 2011

Acuh Tak Acuh, Belum Tentu Sebuah Sikap Dewasa

Acuh tak acuh. Lebih kurang itulah sebuah gambaran seseorang mengenai sebuah sikap 'dewasa'. Dewasa sering dikaitkan dengan perkataan : "Selesaikan sendiri masalahmu, itu bukan urusanku, itu urusanmu!" atau kata-kata yang lain. Ungkapan seperti itu, dapat disamadengankan dengan sikap yang acuh tak acuh.
Dewasa. Sebuah kata yang menggelitik, bila digali akan banyak sekali interpretasinya. Dewasa itu pilihan katanya, meskipun tidak sepenuhnya demikian. Sering kali kata 'dewasa' disamaartikan dengan tindakan acuh tak acuh kepada teman. Acuh tak acuh tidak selamanya merupakan sebuah cerminan sikap dewasa. Saya menganggapnya, justru sebagai sikap yang egois. Misalkan kita seorang pemimpin sebuah kelompok. Lalu ada yang bertanya secara detail mengenai tugasnya. Lalu kita berkata bahwa dia sudah dewasa, kenapa persoalan demikian saja tidak bisa diselesaikan sendiri. Seorang pemimpin tersebut tidak salah, namun tidak juga benar. Sikap anggotanya tersebut juga tidak salah, dan juga tidak benar. Pemimpin tersebut, seharusnya mampu mengarahkan anggotanya tersebut dengan baik. Bukannya acuh tak acuh dengan anggotanya tersebut. Sementara anggotanya tersebut juga harus menginterpretasikan dengan baik tugas yang diberikan oleh pemimpinnya tersebut.
Jadi, dewasa itu seperti apa? Full dengan rasa acuh tak acuh itu bukan dewasa. Itu konyol. Acuh tak acuh akan menimbulkan sikap yang egois. Dan egois itu, sama sekali tidak dewasa. Dewasa itu, menurut saya, adalah mampu bekerja sesuai porsinya, dan pandai menempatkan diri, baik dalam tutur kata, sikap, maupun perilaku. Bila ada orang yang bertanya mengenai suatu hal kepada kita karena kita dianggap yang lebih tahu, maka jawablah itu dengan jawaban yang seharusnya. Bukan jawaban "Lho, kok aku? Kamu harusnya bisa sendiri dong." Begitu juga bila bukan porsi kita, hendaknya bertanya kepada yang mempunyai porsinya. Pada intinya adalah sikap saling memahami satu sama lain, saling menjaga satu sama lain. Itulah dewasa. Ketika jiwa kekanak-kanakan masih terjaga dalam hidup, semisal menjadi egois, sangat acuh tak acuh, menjadi serigala bagi temannya sendiri, hal itu tentu harus diminimalisir. Orang dewasa memiliki segala sesuatu yang lebih terasah dan lebih baik daripada seorang anak kecil. Sehingga, seorang yang sudah dewasa, harus lebih mampu, terutama dalam optimalisasi diri dan pengaturan ritme perasaan.
Begitu juga dengan kemampuan menempatkan diri. Tidak mungkin kita dengan teman-teman sendiri, atau sahabat kemudian berbicara dengan bahasa krama alus. Akan sangat lucu ketika kita ngobrol dengan sahabat di warung kopi dengan bahasa krama alus dengan gelagat mirip abdi dalem. Akan sangat bodoh juga ketika kita berbicara dengan kakek atau nenek dengan bahasa gaul, bahasa Jawa ngoko, atau bahkan bahasa walikan. Pada intinya, pandai menempatkan diri. Boleh ketika berbicara dengan teman-teman selalu menggunakan kata "Cuk, kowe ki...." dan lain sebagainya. Tapi jangan sampai gaya percakapan tersebut dipakai untuk berbicara dengan orang yang lebih tua, atau yang kita hormati.
Dewasa, dewasa adalah segalanya. Kata dewasa mudah diucapkan dengan bangganya, bahwa umur 17 sudah dewasa. Tapi, dewasa yang sesungguhnya sangat kompleks dan masih perlu banyak yang diintrospeksi. Dewasa tidak hanya sekedar acuh tak acuh pada urusan orang lain (ini urusanku, dan itu urusanmu) meski privasi juga diperlukan. Kemampuan otak, perasaan, dan aspek psikomotorik diperlukan untuk menuju kedewasaan. Pertanyaan selanjutnya, sudahkah Anda dewasa sekarang? Dewasa tidak berarti tua, dan tua belum tentu dewasa. Selamat berintrospeksi!

Selasa, 27 September 2011

Petisi Untuk Negri

"Aku bangga dengan negara ini, bukan karena pemerintahan yang adil, manusia yang ramah, tidak ada problem yang berarti. Tapi justru karena keindahan alam dan kelimpahan yang diberikan-Nya kepada kami"

Tidak ada yang bisa dibanggakan dari Indonesia, kecuali potensi alamnya yang sungguh luar biasa. Lebih kurang itu yang ingin saya katakan untuk Indonesia. Bukan berarti nasionalisme saya hilang. Justru keresahan ini muncul karena saya masih mencintai negara saya sendiri. Saya dilahirkan di negara ini, seburuk-buruk apapun negara saya ini, saya harus pula berkarya di dalam negri ini.
Negri ini sudah terlalu banyak penjahat. Mau cari penjambret, pencopet, penodong, psikopat, bahkan sampai koruptor kelas kakap semuanya ada. Semuanya beredar dengan bebas di jalanan. Seolah-olah tindakannya itu tidak ada masalah, memang harus demikian adanya. Benar-benar konyol.
Negri ini sudah terlalu banyak diskriminasi, teror berkepanjangan. Bom dimana-mana, kambing hitam dimana-mana. Yang tidak salah, tahu-tahu bisa jadi tersangka. Teror bom ada dimana-mana, tidak hanya di gereja bahkan masjid di Cirebon pun juga tak luput dari teror. Makhluk macam apakah itu? Biadab.
Kami tidak lagi butuh janji-janji manis dari para pemimpin. Kami tidak butuh lagi pencitraan-pencitraan yang membodohi itu. Kami hanya ingin bisa hidup tenang, saling menghargai, tanpa teror, tanpa diskriminasi, tanpa adanya ketakutan diantara kami. Kami hanya ingin hidup ini damai, bersatu. Kami ingin Bhinneka Tunggal Ika benar-benar ada, bukan hanya sekedar embel-embel. Kami hanya ingin negara ini kembali ke hakikatnya, sebagai negri yang plural dan menjunjung tinggi persatuan.
Kami muak akan segala kelakuan manusia disini. Pengetahuan disalahgunakan. Tapi justru orang yang benar-benar pintar terlunta-lunta, difitnah, disingkirkan, tidak lagi dihargai. Kami hanya ingin negeri yang perfect, tidak ada diskriminasi, tidak ada pemicu perpecahan. Kami ingin bersatu, kami ingin menjadi satu nama kebanggaan: Indonesia Raya!

PT KAI Berbenah, Bisa?

Semenjak beberapa hari menjelang lebaran, hingga saat ini stasiun-stasiun besar, terutama di Jawa mengalami perubahan yang cukup signifikan. Sistemnya hampir dibuat seperti bandara. Pengantar dilarang masuk dan tidak diperkenankan mengantar sanak saudaranya sampai masuk ke dalam gerbong kereta. Memang ini selangkah lebih maju karena dengan adanya peraturan baru ini, maka resiko kecopetan dan penjambretan akan lebih diminimalisir. Informasi yang tertulis di web resmi PT KAI pun nampaknya juga telah menunjukkan bahwa sistem ini akan terus diterapkan, terutama untuk mendukung program yang akan dijalankan oleh PT KAI : Tidak ada lagi penumpang berdiri di semua kereta. Semudah yang dibayangkankah perubahan ini?
Sebenarnya ada sebuah hal kecil, mendetail, namun vital yang sangat perlu untuk dilakukan perubahan dengan segera. Masalah reservasi tiket. Lebih kurang, yang saya tangkap selama ini, ada sebuah hal kecil yang selalu mengganjal dalam tiketing PT Kereta Api, terutama untuk sistem reservasi tiket. Tentu bukan masalah penjualan tiket di ruang reservasi yang setengah-setengah, loket yang buka minimalis. Karena masalah tersebut merupakan masalah klasik, yang sulit dihentikan bila tidak mengganti sumber daya manusianya. Permasalahan yang saya angkat kali ini adalah masalah kuota tiket. Kereta api, dalam sistem reservasinya, tiap kota memiliki kuota tertentu yang dapat diambil oleh tiap kota pemberangkatan. Jadi misalkan sebuah KA Ekspress Sancaka Surabaya-Jogja. Lebih kurang kapasitas kereta adalah 400 penumpang. Surabaya dapat kuota 90 penumpang, Mojokerto 90 penumpang, Nganjuk 90 penumpang, 90 penumpang Madiun, dan sisanya dijual hari H. Lebih kurang, pembagian yang saya rasakan demikian, dan itu jumlahnya stagnan. Artinya, ketika kebutuhan di Surabaya meningkat, tidak serta merta kuota untuk Surabaya ditambah dengan mengambil kota dari kota yang sepi pemberangkatannya, misalkan Madiun (karena Madiun-Jogja sudah ada Madiun Jaya Ekspress). 
Sistem seperti diatas itu benar-benar merugikan bagi PT KAI. Bila dipikir-pikir, setiap kali akan reservasi tiket selalu sudah kosong ketika di cek di LCD TV di ruang reservasi, artinya PT KAI untung besar dalam setiap tripnya. Begitu juga ketika akan membeli ke loket. Tapi, begitu naik ke kereta bila kereta sudah berangkat, maka akan nampak sangat banyak kursi yang kosong. Tapi, ternyata PT KAI tetap dihitung merugi. Seandainya sistem tiketing bisa dirubah dengan mengikuti teori demand and suply. Seperti PO Rosalia Indah. PO ini meletakkan kuota terbesar untuk kota pemberangkatan awal dengan tujuan terjauh. Purwokerto dan Surabaya mendapatkan kuota terbesar. Jogja, sebagai kota yang cukup ramai transportasinya, hanya diberi kuota tidak sampai 10 untuk tiap bis. Ketika Purwokerto memerlukan kuota lebih, maka, kuota Jogja dan Solo bisa saja di-nol-kan, artinya tidak ada jatah. Dengan begitu kerugian bisa lebih diminimalisir lagi. Jadi, PT KAI bisa menambah kuota untuk Jogja dan Solo, ketika kebutuhan masih tinggi. Yang terjadi saat ini adalah kebutuhan tinggi, namun kuota dari daerah tidak kunjung dikurangi, meskipun di daerah itu sepi. Sebagai akibatnya, tiket daerah yang tidak terjual, dijual pada hari H, konsumen yang membeli pun juga pasti sedikit, karena penumpang kereta api tidak suka yang tidak pasti. Jadi, lebih baik beli tiket sebelum hari H.
Dengan adanya sistem seperti yang saya harapkan ini, kerugian PT KAI bisa lebih diminimalisir, dan jumlah penumpang yang dapat terangkut oleh kereta api akan semakin banyak. Okupansi baik, maka tentu keuntungan yang diperoleh maksimal. Maju terus untuk perkeretaapian Indonesia!