Kamis, 07 April 2011

Banyak Tugas, Belajarkah?

Tuntutan pelajar atau mahasiswa saat ini sangatlah beragam. Tuntutan paling kentara adalah banyaknya tugas yang harus dikerjakan. Setidaknya, siswa kelas XII memiliki beban 12 mata pelajaran yang didistribusikan pada 6 hari efektif. Bayangkan bila tiap harinya saja ada 1 tugas saja, maka dalam 1 minggu ada 6 tugas yang harus diselesaikan. Begitu juga dengan kuliah dengan beban 21 SKS tiap semester, dan hampir tiap mata kuliahnya memiliki tugas dengan bobot yang berbeda. Pertanyaannya, apakah segala tugas tersebut membuat siswa atau mahasiswa belajar atau menjadi lebih paham akan materinya?
Sepertinya, jika sistem tugas ini dibebankan pada tiap mata kuliah atau mata pelajaran, tidak akan pernah yang namanya seorang siswa belajar lebih sesuai dengan yang diharapkan dari pembuat tugas. Pembuat tugas pasti akan berpemikiran bila seorang siswa diberikan tugas yang banyak, maka ia bisa belajar dari tugasnya. Sayangnya, ini tidak terjadi. Tiap mata kuliah atau mata pelajaran diberikan tugas masing-masing satu, maka ini artinya akan sangat banyak tugas. Banyak tugas berarti siswa atau mahasiswa yang bersangkutan hanya akan berorientasi pada selesainya tugas tersebut. Perkiraan yang disampaikan oleh pemberi tugas akan meleset. Harapan jika mahasiswa atau siswa akan belajar lebih banyak melalui tugas tersebut meleset dan yang menjadi target pengampu juga akan meleset. 
Orientasi yang berkutat hanya terselesaikannya tugas ini sangat berbahaya. Budaya copas (copy paste) menjadi merebak selama ini. Berbagai macam sumber yang telah tersedia serta sarana dan prasarana yang lengkap membuat semacam budaya ini menjadi menjamur. Orientasi pada terselesaikannya tugas hanyalah berorientasi pada terselesaikannya tugas, dengan mengabaikan esensi dari tugas tersebut agar si pembuat tugas menjadi lebih paham materi yang disampaikan melalui tugas tersebut. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan pendidikan. IPK atau nilai akhir menjadi baik, karena tugas terselesaikan semua. Tapi, ketika dilakukan tes, hasilnya blank semua karena pengerjaan tugas hanya berorientasi pada terselesaikannya tugas, bukan sejauh mana ia paham akan topik yang sedang dibahasnya.
Aspek positifnya? Tentu saja siswa atau mahasiswa dibiasakan mengatur waktu dan berbaur dengan kegiatan-kegiatan lain. Setidaknya, bila bisa mengatur waktu dengan baik, maka orientasi pada terselesaikannya tugas ini tidak kentara. Yang ada justru rasa untuk ingin memahami pekerjaan apa yang sedang ia kerjakan.
Apakah sistem multi-tugas seperti ini baik diterapkan di Indonesia? Jawabannya ada pada diri sendiri, dan lihatlah lingkungan sekitar. Lihat kesesuaiannya, bandingkan buktinya.

Senin, 04 April 2011

Bermain Dengan Idealisme

Banyak orang meributkan makna idealisme dan penerapannya dalan kehidupan sehari-hari. Apa implementasinya dan bagaimana mengimplementasikannya?
Sekolah saya ketika SMA dulu kebetulan mengajarkan seseorang untuk memiliki idealisme yang kuat. Dan kami semua murid-muridnya juga diharuskan memiliki idealisme yang kuat. Setidaknya idealisme itu melandasi alur pikir kami semua. Baik yang masih bersekolah maupun yang sudah menjadi alumni. Ketika berbicara dengan siswa atau alumni dari SMA saya ini memang memiliki aura yang berbeda. Pemikirannya bisa dikatakan berbeda dengan anak SMA kebanyakan yang masih enak-enaknya bermimpi tentang pacaran dan bersenang-senang. Sementara itu kami sudah berkutat pada berbagai permasalahan : korupsi, politik, agama, kesenian, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan lulusannya.
Saya, sebagai alumni SMA tersebut juga merasa bahwa idealisme-idealisme yang ditanamkan selama proses pembelajaran tertanam kuat di dalam hati. Idealisme disini saya sama artikan dengan sebuah visi atau tujuan. Yang ada adalah sejauh mana saya menjaga diri untuk mencapai tujuan tersebut. Tapi, saya baru-baru ini menyadari bahwa tujuan itu tidak dapat dipaksakan bila melihat kondisi saat ini.
Kisah yang saya sajikan ini kisah saya sendiri yang saya alami. Saya mendaftar di lebih kurang 10 universitas berbeda, 5 fakultas berbeda dan melalui 8 sistem penerimaan mahasiswa baru. 7 fakultas yang saya pilih diantaranya adalah fakultas kedokteran dan fakultas kedokteran gigi. Saya dulu memiliki satu idealisme : saya harus berkuliah di fakultas kedokteran. Saya berpikir bahwa saya mampu, saya berpikir bahwa saya bisa. Saya berpikir hasil tes potensi akademik (psikotes) dan hasil pembelajaran ini bisa membawa saya untuk mencapai tujuan saya. Saya berpikir bahwa dengan semangat saya yang berapi-api ini saya bisa mencapai tujuan saya. Namun, akhirnya semuanya justru loss. Semuanya hilang. Saya merubah idealisme saya tepat 2 bulan sebelum SNMPTN. Saya akhirnya berpasrah diri saja, dan memilih semua yang terbaik. Orang tua saya sempat hampir stress gara-gara idealisme saya. 
Setidaknya ini adalah gambaran kecil dari bagaimana bermain idealisme itu. Tidak mudah mempertahankan idealisme itu. Tak jarang justru idealisme itu menjadi suatu hal yang utopis. Ini bukan karena keadaan sekitar, tapi karena pemikiran diri sendiri bagaimana idealisme itu dipertahankan. Diri sendirilah yang membentuk sebuah idealisme, didasarkan dari lingkungan sekitar. Tapi, adanya idealisme itu harus kembali lagi menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. Idealisme itu tidak dapat secara mutlak diperjuangkan secara 'saklek' atau sama plek dengan idealisme. Ketika yang ada di lingkungan berbeda dengan idealisme, akan menjadi sangat sulit bila memperjuangkan idealisme tadi secara 'saklek'. Maka, pelaksanaan idealisme itu disesuaikan dengan keadaan lingkungan. Idealisme itu dinamis, bukan suatu hal yang statis yang tidak bisa berubah bentuk melihat situasi. Dinamis, dalam artian tidak murni dinamis. Idealisme itu ibarat botol plastik. Ada kalanya dia bisa berubah bentuk, ditekan sedikit, atau bahkan diremas. Tapi, ada titik dimana botol plastik ini tidak dapat lagi ditekan ataupun diremas. Seperti itulah idealisme. Dinamis, tapi mempunyai batasan tenggang.
Memperjuangkan idealisme secara 'saklek' itu tidak mudah. Banyak orang mati karena mempertahankan idealismenya sendiri. Entah itu mati gantung diri, atau dibunuh (lihat masa-masa 98 dimana sekelompok orang berusaha mempertahankan idealismenya dan harus hilang sia-sia). Sangat makan hati tentunya. Tapi, ketika tidak bisa mempertahankan idealisme, maka orang tersebut masih sama saja dengan yang namanya ababil. Meski memperjuangkan idealisme itu sungguh sulit, tapi idealisme itu tetap diperlukan. Biar bagaimanapun, idealisme itulah yang membentuk sikap dan pribadi manusia. Idealisme dan bagaimana menerapkannya itulah yang membedakan antara satu individu dan satu individu lainnya. Milikilah idealisme yang dinamis, dan siaplah bersakit-sakit hati apabila bermain idealisme dengan 'sistem paksa'. Amdg.

*Bagi yang belum beridealisme, beridealismelah karena itulah yang akan membuat Anda lebih berpendirian dan mempunyai arah dalam tujuan hidup.

Minggu, 03 April 2011

Life is Just Like A Candle

Lilin. Deskripsi secara singkat adalah merupakan sebuah bentukan berupa batang yang terbuat dari bahan dasar minyak bumi. Diberi pewarna yang bermacam-macam agar lebih menarik. Ada pula yang dibuat dari stearin, bahan alami dari kelapa sawit, yang membuat lilin menjadi lebih awet dan kuat.
Kenapa lilin dalam analogi sore ini? Ya, lilin. Dia menjadi berguna karena api. Hidup kita bak sebuah lilin. Lilin menjadi berguna karena ada api. dengan kata lain, api adalah nyawa. Maka nyawa kita dapat kita samakan sebagai api. Percuma badan tanpa nyawa. Hanya akan menjadi bangkai saja. 
Siapa yang memberikan lilin sebuah api? Tentu adalah sebuah tangan yang berbaik hati dan mau membuat lilin tersebut menjadi berguna. Ya, tangan tersebut adalah tangan Tuhan yang memberikan nyawa kepada kita. Kenapa Tuhan memberikan nyawa kepada kita? Tuhan tidak ingin kita hanya sekedar menjadi bangkai. Gelondongan lilin yang dibiarkan begitu saja juga akan lapuk dan hilang satu persatu menjadi debu. Begitu pula dengan kita. Ada maksud dari Tuhan dengan memberikan nyawa kepada tubuh kita : Ia ingin mempergunakan dan membuat kita berguna di dunia ini.
Siapa yang bisa mematikan nyala api dari lilin itu? Tentunya semua tangan. Terserah tangan siapapun itu. Tangan orang yang ada di sekitar, atau bahkan tangan orang-orang tak bertanggung jawab. Tapi, api itu takkan pernah padam. Kenapa? Ya, karena tangan Tuhan yang menjaga nyala api itu agar jangan sampai padam. Banyak godaan yang mencoba memelencengkan jalannya hidup kita. Dan itu adalah tindakan setan. Tangan Tuhan takkan segan-segan menyingkirkan segala macam cobaan dan godaan tersebut. Dan tetap membiarkan kita untuk terus hidup. Tinggal bagaimana diri kita, akan terlena pada godaan  ataukah menjadi selektif dalam menjalani hidup?
Yang berhak mematikan nyala api dari lilin hanyalah orang yang menyalakannya. Demikian pula dengan diri kita. Maka, yang berhak mengambil nyawa kita hanyalah Tuhan. Lilin dimatikan pun juga tepat pada saatnya, ketika segala yang harus dilakukan oleh lilin telah cukup. Begitu pula dengan kita. Ketika apa yang telah kita lakukan telah cukup di mata Tuhan, maka kita akan mati. Dan nyawa kita akan kembali kepada-Nya. Kita tak tahu kapan Tuhan akan mematikan 'nyala lilin' ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan yang terbaik dan terus yang terbaik.
Menjadi lilin, juga menjadi lentera. Lilin dinyalakan sebagai sebuah sumber cahaya di tengah kegelapan. Begitu pula dengan hidup kita ini. Kita ada untuk membuat sebuah cahaya di tengah kegelapan, gegap gempitanya dunia. Bukan untuk menambah kegelapan duniawi yang sudah sangat sering kita lakukan.
Ya, kita ini bagai sebatang lilin. Manusia-manusia lain juga adalah lilin. Gandenglah mereka satu persatu, jadikanlah dunia sekitarmu menjadi terang. Dan ingatlah slalu bahwa Dia sang empunya hidup. Ad Maiorem Dei Gloriam.

Sabtu, 02 April 2011

Berbagai Kisah Memilukan Sepanjang Hidup

Ada banyak sekali cerita sedih dan memilukan dari orang-orang yang kecopetan, ditodong, tidak punya uang, atau kena tipu. Berikut ini ulasan cerita yang masih saya ingat dan saya alami.

Cerita 1
Ketika itu saya masih SMP (sekitar tahun 2006-2007). Saya hobi sekali bermain-main di halaman depan rumah saya. Ketika itu saya ada di rumah sendirian. Tiba-tiba datang seseorang lelaki usia 30 tahunan dengan sepeda butut. Beliau mengaku berasal dari Paroki Kalasan. Beliau tahu alamat saya karena bapak saya dulu adalah Ketua Dewan Stasi St Alfonsus Nandan (pejabat gereja non rohaniwan). Beliau kalau tidak salah sudah datang yang kedua kalinya. Yang pertama bukan saya yang menemui, tapi bapak saya langsung. Yang kedua, saya sendiri yang menemui dan rumah kondisi kosong. Beliau datang dan menyatakan niatnya untuk minta sangu untuk biaya perjalanan ke Jakarta. Beliau saat itu menyampaikan bahwa beliau pergi mengunjungi setiap dewan paroki untuk meminta sumbangan sekedarnya. Kemudian, saya memberikan sedikit uang untuk bapak tersebut. Saya saat itu menyatakan dalam hati, kalau bapak ini benar-benar menggunakan uangnya untuk pergi ke Jakarta, artinya bapak ini tidak akan muncul lagi untuk ketiga kalinya. 
Setelah tahun demi tahun berlalu, sampai saya meninggalkan Jogja, bapak tersebut tidak kembali lagi. Dan saya menyimpulkan bapak tersebut telah memperoleh pekerjaannya di Jakarta.

Cerita 2
Ketika itu saya juga masih SMP (sekitar 2006-2007 pula). Saya hari itu ngidam Bebek Goreng Blabak yang menjadi langganan dan bebek goreng yang enak dan mantab. Kedua orangtua saya kebetulan akan mengunjungi saudara di daerah Magelang. Maka, saya titip sekalian bebek goreng tersebut. Lebih kurang 5 jam kemudian kedua orang tua saya kembali. Dan saya mendapatkan cerita yang cukup membuat saya ngilu dan kasihan.
Ketika itu, kedua orang tua saya sedang membeli bebek goreng di warung langganan kami di Blabak Magelang. Kedua orang tua saya berada di beranda depan warung (saat itu masih warung yang lama, hanya sebuah warung butut tanpa tempat makan). Tiba-tiba ada sepasang suami istri dan seorang anak yang masih kecil berjalan melintas depan orang tua saya. Bajunya rapi, seperti habis dari tempat penting. Bawaannya tidak banyak. Ketiga orang tersebut bertanya pada kedua orang tua saya dengan logat khas Jawa Jogja.
"Pak, Nuwun sewu. Muntilan tasih tebih mboten nggih?" (Pak, permisi. Muntilan masih jauh tidak ya?)
"Nggih sawetawis Pak. Nggih 3 kilonan." (Ya lumayan Pak. 3 kilonan)
"Menawi Gunung Kidul Pak?" (Kalau Gunung Kidul Pak?)
"Waaa....lha nggih tebih sanget. Panjenengan ajeng teng pundi to?" (Wah, lha ya jauh sekali. Anda mau kemana to?)
"Kulo ajeng wangsul Pak. Niki wau kulo saking Kyai Langgeng (obyek wisata mainan di Magelang). Lare kulo niki nembe mawon juara 1 teng kelas. Dados kulo piknikaken. Lha kok apese kulo, wau dompet kulo kalih tas kulo dipun copet. Kulo mboten mbeto arto niki." (saya mau pulang Pak. Tadi saya habis dari Kyai Langgeng. Anak saya ini baru saja juara 1 di kelas. Lalu saya piknikan. Lha kok sialnya saya, tadi dompet saya dan tas saya dicopet. Saya tidak bawa uang sekarang.)
Akhirnya, karena merasa kasihan, bapak saya memberikan makan kepada ketiga orang tersebut. Apalagi ketiga orang tersebut sangat kuyu sekali, lelah, dan kasihan : niatnya ingin menyenangkan anaknya, tapi malah kena apes.
Kemudian, setelah itu, tida orang tadi diantarkan sampai ke terminal Giwangan dan diberikan biaya secukupnya untuk sampai ke Wonosari lagi. 

Cerita 3
Hari itu hujan deras di Kabupaten Jembrana Bali. Saya, ayah saya, dan ibu saya baru saja ziarah ke Goa Maria Jembrana. Kami diantar oleh saudara kami di Jembrana untuk menuju ke Gilimanuk dan naik kapal ke Jawa. Perjalanan masih lancar sampai kami harus memutuskan untuk naik bis dari terminal Ketapang atau naik kereta. Akhirnya kami memutuskan naik kereta karena akses untuk turun di Surabaya lebih enak. Ketika itu masih awal tahun ajaran 2010 untuk mahasiswa. Jadi, saya sudah berada di Surabaya. Kereta berangkat masih jam 22.00. Maka kami pergi dulu mencari makan, lalu pergi ke stasiun untuk membeli tiket.
Kebetulan kereta yang ada malam itu hanya tinggal kereta bisnis dan eksekutif. Kereta ekonomi baru berangkat besok paginya. Ada pun hanya sampai Probolinggo. Kami menunggu di peron stasiun. Saya memilih jalan ke arah depo Banyuwangi Baru. Dari jauh terlihat kedua orang tua saya mengobrol dengan orang yang duduk di belakangnya. Tak lama kemudian saya kembali ke tempat duduk peron dan bertanya apa yang baru saja terjadi.
Ternyata, dua orang yang duduk di belakang saya adalah seorang bapak dan anaknya laki-laki. Dua orang ini adalah koki. Awalnya, kedua orang ini diajak oleh kenalannya untuk bekerja di Denpasar, Bali di sebuah rumah makan mewah untuk menjadi koki. Ternyata, setibanya disana kedua orang ini hanya dipekerjakan di sebuah warung kecil di pinggir gang dan tidak mendapatkan gaji yang memadai. Bahkan yang beli di tempat itu sering ngutang dan sistem pembeliannya tawar-menawar. Lokasi warung itu ada di Jl. Imam Bonjol (Sentra kuliner cukup terkenal di Denpasar). Sementara itu, temannya sudah kabur duluan dan menghilang tanpa jejak. Merasa tak punya pilihan karena uang sudah habis, akhirnya ayah dan anak ini bekerja seadanya. Akhirnya terkumpullah uang lebih kurang 200 ribu. Kedua orang ini memilih untuk kabur dan pulang ke lokasi asalnya di Ciamis, Jawa Barat. Akhirnya, kedua orang ini menumpang kereta yang sama dengan kami dan melanjutkan dengan kereta Pasundan dari Surabaya ke Ciamis. Kami hanya bisa membantu sedikit untuk kepulangan kedua orang ini ke CIamis beserta sebuah doa supaya mereka selamat.

Cerita 4
Cerita ini saya alami ketika saya akan pulang ke Jogja saat liburan semester 1. Hari itu adalah hari Senin siang di terminal Bungurasih. Saya sedang menunggu angkutan langganan saya : Sumber Kencono. Saya menunggu armada W 7551 UY di dekat parkiran Sumber Kencono. Tiba-tiba datang seorang bapak usia 40 tahunan. Bapak ini duduk di depan saya. Saya membuka percakapan dengan basa-basi.
"Mau kemana pak?"
"Mau ke Boyolali Mas."
"Ooo...Nanti ikut yang W 7672 UY itu saja Pak. Itu arah Semarang langsung."
"Oiya Mas. Masnya mau kemana?"
"Ke Jogja Pak. Bapak dari mana?"
"Saya dari Lombok ini. Masnya dari mana asalnya?"
"Ooo...Saya dari Jogja Pak. Disini cuma kuliah. Aslinya dari Lombok?"
"Saya asli Boyolali Mas. Saya ke Lombok menyelesaikan urusan saja. Masnya kuliah dimana?"
"Di Unair pak."
"Ambil jurusan apa?"
"Kedokteran Gigi."
"Oalah. Biasanya kalau orang luar surabaya ke sini itu buat kuliah, ya pasti jurusan yang diambil tu yang paling bagus. Gak mungkin grade nya lebih rendah dari kota asalnya."
"Oooo...Dari Lombok ke Surabaya naik bis ya?"
"Nggak Mas. Saya ikut truk. Saya bayar 100 ribu, untung mau nganter sampai Surabaya. Termasuk biaya penyeberangannya itu."
"Lho, lha kok gitu?"
"Iya Mas. Saya ini ke Lombok sudah sejak 2 minggu lalu. Saya kesana niatnya mau membebaskan tanah saya di Lombok. Mau saya bangun kantor untuk mempekerjakan tetangga-tetangga saya."
"Ooo...lha terus?"
"Saya kan kesana rencana cuma 1 minggu. Uang saya sudah saya set segitu. ATM saya yang satunya saya tinggal di boyolali. Harapan saya 1 minggu itu kasus tanah ini bisa selesai. Lha kok apesnya, kasusnya belum selesai. HP saya dua-duanya juga dicopet orang. Keteledoran saya sih, waktu beli pisang goreng untuk makan, lha kok diambil orang. Uang saya terlanjur habis untuk ngurusi kasus ini. Akhirnya, saya memutuskan pulang saja ke Boyolali. Untung ada truk yang mau saya tumpangi."
Kemudian, selanjutnya bapak ini sharing banyak hal. Bahwa sebenarnya beliau adalah orang yang sangat mampu. Rumah sendiri saja sudah punya, di boyolali 1 kemudian di daerah lain di Jawa Tengah juga 1. Tapi, beliau curhat belum punya istri juga. Beliau juga menyampaikan kalau beliau pendidikannya rendah, tapi pernah ikut pelatihan enterpreneurship di Korea dan dibiayai kantornya tempat bekerja dulu. Justru beliau banyak menyumbangkan inspirasi dan motivasi yang membantu saya. Bahwa hidup apapun perlu disyukuri, sekecil apapun itu. Semuanya sudah ada jalannya. Kalau Tuhan tidak berkehendak, maka manusia tidak bisa memaksa.

Cerita 5

Banyak sekali orang diluar sana. bahkan yang sudah mampu pun masih dapat mengalami kesialan tersebut. Yang sudah disiapkan sungguh-sungguh pun masih dapat mengalami kesialan itu. Maka, semumpung kita belum terlanjur mengalami kesialan yang fatal itu, mari kita membantu mereka yang terkena kesialan-kesialan demikian ini. 

Kenapa Masih Ada?

Kejadian ini baru saya alami tidak lebih dari 1 jam yang lalu dan kejadiannya di depan kos saya.
Saat itu saya sedang kalut karena toko digital printing yang saya kunjungi ini sudah tertutup rapat. Padahal ada barang pesanan yang belum saya ambil. Saya masih sibuk menghubungi teman saya yang punya titipan tersebut agar bisa memberikan solusi yang terbaik. Ketika menunggu di depan toko yang memang lokasinya persis di depan kos saya ini, saya sedikit melamun. Tiba-tiba dari arah utara berjalan seseorang dengan wajah yang sangat kuyu dan lesu. Ia hanya menenteng sebuah kresek kecil berwarna hitam yang entah apa itu isinya. Setelah dekat, ternyata ia adalah sesosok lelaki tua yang berjalan dengan mata yang berkaca-kaca. Bapak itu berjalan mengambil jalan di belakang saya berdiri. Saya terus menatap bapak tersebut.
Bapak tersebut kemudian berhenti sejenak dan bertanya kepada saya, matanya masih berkaca-kaca, dan nada bicaranya sedikit tersendat karena kesedihannya.
"Mas, nuwun sewu. Bratang tasih tebih mboten nggih?" (Mas, Permisi, Bratang masih jauh tidak ya?)
"Bratang pundi nggih Pak? Terminal?" (Bratang mana ya Pak? Terminal? *Bratang adalah nama daerah di Surabaya)
"Wah, pokoke Bratang Mas. Kulo mboten ngertos Suroboyo." (Wah, pokoknya Bratang Mas. Saya tidak tahu Surabaya)
"Wah, mergi niki mangkih lurus teras mawon Pak. Pun, panjenengan nurut mergi niki mawon." (Wah, jalan ini nanti lurus terus saja. Sudah, nanti Anda mengikuti jalan ini saja.)
"Pundi nggih niku Mas?" (Mana itu Mas)
"Pun Pak, niki mangkih lurus teras mawon. Mangkih bangjoo ingkang sekawan. Lha niku Bratang" (Sudahlah Pak, ini nanti lurus saja terus. Nanti lampu lalu lintas yang keempat. Nah, situ itu Bratang)
"Tebih mboten nggih Mas? Jarake kinten2 pinten?" (Jauh tidak ya Mas? Jaraknya kira-kira berapa?)
"Waduh Pak, nggih sawetawis. Kinten2 2 ngantos 3 kilo Pak." (Waduh, ya lumayan Pak. Kira-kira ya 2 sampai 3 kilo Pak)
"Waduh..." Bapak ini mengambil napas sejenak, matanya berkaca-kaca dan wajahnya keliahtan bingung. Lalu saya menyambung perkataan lagi.
"Lho, lha Bapak niku saking pundi?" (Lho, lha Bapak ini dari mana?)
"Ngeten Mas. Kulo dhek wingi niku nunut rencang kulo. Kulo niki saking dusun Kenjer-Kenjer daerah pinggir laut pokoke (Kenjeran maksudnya). Kulo disanjangi rencang kulo menawi wonten damelan dados buruh bangunan. Lha pun dugi Kenjer-Kenjer wau kulo ditinggal kalih rencang kulo wau. Kulo nggih bingung mboten ngertos Suroboyo." (Begini Mas. Saya beberapa hari lalu ikut teman saya. Saya ini dari Kenjer-Kenjer yang daerah pinggir laut. Saya dibilangi kalau ada kerja menjadi buruh bangunan di sana. Lha setelah sampai Kenjer-Kenjer saya ditinggal teman saya tadi. Saya juga bingung, tidak tahu Surabaya.) Bapak ini kembali berkaca-kaca dan hampir saja menangis.
"Lho, Bapak aslinipun pundi?" (Bapak aslinya mana?)
"Kulo asli Kediri Mas." (Saya asli Kediri Mas)
"Bapak niki rencananipun ajeng pripun? Nopo ajeng nitih bis saking Bratang?" (Bapak ini rencananya bagaimana? Apa akan naik bis dari Bratang?)
"Wau kulo disanjangi pak Becak Mas. Kulo disanjangi mangkih mlampah mawon teng Bratang. Lajeng mangkih nunut truk. Kulo niki sampun 1 dinten mlampah Mas." (Tadi saya dibilangi oleh Pak Becak Mas. Saya disuruh untuk berjalan ke arah Bratang. Lalu nanti ikut truk. Saya ini sudah seharian jalan kaki Mas.)
"Wah, monggo Pak kulo dherekke mawon teng Bratang. Kulo mundhut sepedah motor sekedhap nggih..." (Wah, mari Pak saya antarkan saja sampai Bratang. Saya ambil sepeda motor sebentar...)
"Ampun Mas, saestu. Pun kulo mlampah kemawon..." (Jangan Mas, serius. Sudah. saya jalan saja...)
"Lho, mboten nopo2 Pak...mangkih kulo dherekaken dhateng Bratang...Monggo..." (Lho, tidak apa-apa Pak. Nanti saya antarkan ke Bratang. Mari...)
"Walah Mas, saestu Mas. Pun kulo mlampah mawon. O nggih Mas. Menawi Waru niku tebih mboten saking mriki? Wau kalih Pak Becake menawi teng Bratang mboten wonten kulo disanjangi teng waru. Mriko kathah truk" (Waduh Mas, serius mas. Sudah saya jalan kaki saja. Oh iya Mas. Kalau Waru itu jauh tidak ya dari sini? Tadi sama Pak Becaknya kalau di Bratang tidak ada saya dibilangi untuk pergi ke Waru. Disana banyak truk)
"Waduh, niku malah tebih malih pak. Kinten2 7 kilonan saking mriki. Pun Pak Monggo kulo dherekke mawon." (Waduh, itu malah lebih jauh lagi pak. Kira-kira 7 kilonan dari sini. Sudah Pak, mari saya antarkan saja.)
"Astagfirullah!! Pun Mas mboten usah. Saestu. Nggih pun Nggih Mas. Kulo tak mlampah mawon. Matur suwun nggih Mas." (Astaghfirullah!! Sudah mas, tidak usah. Serius. Ya sudah ya Mas. Saya jalan kaki saja. Terima kasih banyak ya Mas.)
Saya pun hanya terdiam terpaku. Seandainya Bapak itu mau, saya antarkan sampai ke Bungur sekalian dan biaya ke Kediri akan saya biayai.
Bukannya apa-apa. Saya menyadari bahwa Surabaya ini adalah sebuah kota yang sangat besar dan kejam. Selama saya hidup di Jogja, belum pernah saya menemui hal-hal seperti ini. Pernah menemukan pun hanya orang-orang sekitar Jogja saja (mungkin saya jadi teringat cerita orang tua saya yang menemukan sekeluarga yang pulang jalan kaki dari Magelang ke Gunung Kidul). Artinya, pasti banyak sekali orang dengan kasus seperti Bapak yang saya temukan tadi. Sebelumnya saya pernah bertemu orang seperti itu. Juga sama, bapak-bapak usia 40 tahunan. Beliau sedang berusaha untuk menyelesaikan konflik tanahnya di Lombok, NTB. Sebenarnya beliau kaya, tapi karena apes, beliau hanya punya uang 200 ribu untuk pulang ke Boyolali, Jateng. 2 HPnya dicopet orang, uang di ATM habis, baju pun dijual. Akhirnya beliau nunut truk dari Lombok ke Surabaya. 100 ribunya untuk bayar truk, 100 ribu sisanya untuk biaya makan dan transport bis dari Surabaya ke Boyolali.
Kembali ke cerita dan topik awal. Banyak sekali kasus seperti itu. Ditipu temannya sendiri, lalu ditinggal begitu saja. Menurut saya, ulah temannya itu benar-benar tidak manusiawi. Apa yang dilakukannya tidak mencerminkan ulah manusia. Kasus demikian ini sangat banyak terjadi di kota-kota metropolitan, seperti Surabaya, Jakarta, Denpasar bahkan mungkin Medan. Artinya apa? Kita perlu waspada. Beruntung kita yang sudah mengenal internet ini adalah orang-orang yang berpendidikan. Artinya paham sedikit-sedikit mengenai hal itu. Bagaimana dengan orang-orang luar di sekitar kita? Bukankah betapa kasihannya bila orang-orang tersebut menjadi korban penipuan yang modusnya tidak jelas demikian.
Mari, kita bantu ringankan beban saudara kita yang demikian ini. Jika memang menemukan orang yang ditipu di kota orang, berikanlah sedikit kebutuhannya yang sekiranya bisa kita bantu. Asalkan tetap teliti, dan jangan sampai kita yang menjadi korban penipuan. Berkah dalem.