Lain jika di Jogja saat ini. Jika ada orang menggunakan masker, bahkan di jalanan umum sekalipun, ia bukan seorang dokter bedah mulut, mahasiswa D3 atau bahkan dokter muda yang sedang praktek. tetapi memang sebuah keharusan untuk menghindari debu merapi.
Buka mata mu, buka hati mu, dan raihlah berjuta pengalaman di alam sadarmu
Senin, 08 November 2010
ANEKDOT MASKER
Kalau di FKG Unair biasanya terlihat orang yang pakai masker identik dengan mahasiswa D3 yang baru saja selesai praktikum, Dokter Gigi Muda yang sedang praktek dengan pasien, atau Mahasiswa PPDGS Bedah Mulut. Biasanya orang yang berada di FKG Unair dengan kostum baju praktikum atau baju dokter dengan masker akan identik dengan ketiga hal itu.
Minggu, 07 November 2010
HUJAN SEMALAM
Hujan semalam
Deras nian alir airmu
Mengalir membujur
Dari langit turun ke bumi
Hujan deras
kau hapuskan debu
dari sgala sudut rumahku
Genteng coklat itu
Tlah kembali menjadi coklat
Trotoar abu-abu itu
Telah kembali menjadi merah bata
Debu-debu jalanan itu
Kini tlah kau singkirkan
Smua debu tlah kau hapuskan
dari pandangan
Hujan
Maaf seribu maaf
Ada dua hal yang belum bisa kau hapuskan
Kau belum bisa menghapuskan
Kesedihan, kegalauan para pengungsi itu
Dan
Kesedihanku, kekecewaanku
yang hanya kan kupendam
dalam hati
JATIREJO 77B Minggu, 71110
Barak Terpencar, Logistik Masih Diperlukan
Ada beberapa yang belum tahu bahwa barak-barak pengungsian warga merapi ternyata mencapai jalan Sidomoyo, Godean. Di tempat ini ada sebuah barak yang menggunakan bangunan SD Sidomoyo dengan kapasitas kurang lebih 400 orang. Masih pada jalur yang sama, ada juga pengungsian di SD Tlogoadi dan lapangan Getas dengan kapasitas total sekitar 2000 jiwa. Juga di Youth Center Bolawen dengan kapasitas yang cukup besar. Juga di Masjid daerah perempatan Kronggahan juga terdapat pengungsi dengan jumlah sekitar 100 orang. Ke barat sedikit ada di daerah Warak.
Untuk pemenuhan logistik, SD Sidomoyo sepertinya belum tersentuh samasekali. Sementara untuk Youth Center Bolawen, SD Tlogoadi dan lapangan Getas sudah ada bantuan yang masuk. Di Masjid Kronggahan pemuda Masjid sedang menggalang bantuan di jalan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pengungsi.
Pengungsian yang lain yang ada di daerah Jalan Kaliurang ada Seminari Tinggi Kentungan dengan kapasitas 900 orang, Gereja Banteng, SCJ, Anging Mamiri ada sekitar 2000 orang lebih. Di Daerah Monjali sendiri ada di Bruderan FIC dan SD Karitas dengan kapasitas 55 orang. Di daerah Pendowoharjo juga ada pengungsi yang menempati Balai Desa Pendowoharjo dengan jumlah pengungsi 5000 orang. Pengungsi ini belum termasuk pengungsi yang ada di Maguwoharjo yang berjumlah 36.000 orang dan daerah lain yang belum tercatat dan belum tercover.
Untuk kebutuhan logistik yang masih diperlukan antara lain obat-obatan seperti tetes mata, minyak kayu putih, susu bayi, selimut, tikar, alat-alat mandi, pampers dan pembalut wanita, dan beberapa barak masih membutuhkan makanan siap makan karena beberapa barak belum mempunyai dapur umum.
Jadi, sekarang bukan saatnya melarikan diri dari Jogja, melainkan melakukan apa yang bisa dilakukan yang terbaik untuk Jogja. Bukan hanya mimpi, saatnya beraksi!!
Sabtu, 06 November 2010
MASA HARUS PINDAH BOYOLALI???
Siang itu hawa cukup panas karena gejolak Gunung Merapi. tapi cuaca cukup mendung. Saya bersama Romo Sul, Mas Gembus, dan Anton berangkat ke pengungsian Taman Kuliner Condong Catur untuk setor makanan sejumlah 100 bungkus nasi.
Setibanya disana, kami disambut tim posko Tamkul. Nasi segera mereka terima dan kemudian meminta tolong kepada kami untuk kembali mempersiapkan transportasi. Usut punya usut, ternyata pengungsi akan dipindahkan menuju ke Boyolali. Kurang tau penyebabnya. Mungkin karena bahaya dari Merapi semakin mendekat ke kota Yogya.
Yang jelas para pengungsi ini akan semakin jauh dari kampung halamannya. Semoga mereka semua yang mengungsi diberikan kekuatan untuk tetap tinggal. Dan yang telah ditinggalkan semoga diberikan kekuatan. Amiiin.
F1 GOES TO PENDOWO
Sore itu suasana masih genting. Bukan karena hujan abu atau hujan kerikil. Tapi masalah 176 bungkus nasi yang belum dapat didistribusi di Posko Nandan. Kami mencoba menghubungi Van Lith, dan beberapa pengungsian lainnya. Ternyata semuanya telah penuh. Baru pukul 19.05 mendapat kepastian kemana nasi-nasi tersebut akan dikirim : Balai Desa Pendowoharjo.
Transportasi berupa Honda Accord Prestige '88 sudah siap. Kali ini saya bertugas sebagai driver, ditemani teman saya Andre dan Mbak Dewik. Lebih kurang 8 plastik besar berisi bungkusan nasi dibawa. Pukul 19.15 sudah lepas dari Posko Nandan. Perjalanan langsung saya lakukan secara ngebut untuk mengejar deadline karena batas makan malam lebih kurang pukul 20.00. Mobil tua ini terpaksa saya pacu hingga 110 km/jam di jalanan yang masih berabu dan basah. Zig-zag kanan kiri pun menjadi sering saya lakukan agar cepat sampai tujuan.
Lebih kurang 15 menit kemudian sudah tiba di depan kapel Pendowoharjo. Kami bertanya pada warga sekitar, dan ternyata memang kami terlalu ke utara. Kami memutuskan untuk berputar di tempat itu juga. Saya langsung belok agak kanan dan memundurkan mobil. Begitu mundur agak jauh, tiba-tiba laju mobil semakin kencang dan terdengar suara 'dugg' yang sangat keras. Beberapa detik kemudian mobil miring ke kanan. Saya menyadari kalau mobil saya 'njegur kalen'. Teman-teman saya segera mencari bantuan untuk mengangkat mobil saya. Kurang dari 10 menit, mobil saya sudah berada di jalanan kembali. Setelah mengucapkan banyak terima kasih, kami langsung menuju ke Pendowoharjo.
Sesampainya disana, kami langsung memarkir mobil dan turun ke sekretariat. Kami terlebih dahulu mengenalkan diri kemudian menawarkan nasi bungkus tersebut. Ternyata bisa. Kami langsung dengan semangat menurunkan 8 plastik berisi nasi bungkus tersebut ke posko, dan melakukan pendataan diri untuk kelengkapan administrasi pengungsian.
Pengungsian ini sebenarnya adalah sebuah balai desa. Kecil, tua, dan sedikit kumuh. Tanahnya sangat becek. Informasi terakhir yang didapat, tempat ini telah menampung 4000 orang. Sekitar 800 orang diperkirakan akan datang kembali ke pengungsian ini. Saat kami datang pukul 19.30, pasukan TNI yang berencana membangun dapur umum baru saja datang. Sehingga pasokan logistik untuk makan malam menjadi tersendat. Meskipun begitu, perlu disyukuri bahwa di tempat tersebut sudah ada dapur umum untuk mengcover keperluan pengungsi.
Setelah selesai kami langsung pulang. Perjalanan pulang ini lebih serasa naik jet coaster. Handle rem tangan harus digunakan karena mesin sering mati kalau tidak di gas. Karena sudah mangkel duluan di Beran gara-gara ada plat B dan plat AA Magelang seenaknya, akhirnya perjalanan menjadi zig-zag patah yang membuat geol kanan geol kiri. Sampai di jombor bertemu plat AB Kulonprogo lebih kurangajar lagi. Ketika akan nyelip, saya ngedim dan nyalakan lampu sein, tidak diberi. Ketika saya menyelip, mobil itu ikut-ikutan kenceng. Akhirnya dengan segenap kedongkolan saya, saya beranikan ambil kiri, lalu tak selang lama mobil itu juga ikut ngegas. Tak ingin berkonfrontir lebih lama, saya banting stir saya ke kiri, sementara bagian bagasi saya masih ada di bagian bumper depan mobil yang saya selip itu. Mobil itu kelabakan dan alhasil ngerem ndadak dan menjadi kagol. Setelah itu mobil saya pacu kembali sampai 120 km/jam di ringroad dan tiba di posko kembali dengan super selamat, meskipun beberapa nyawanya 'kecer' di jalan.
Langganan:
Postingan (Atom)